Kamis, 20 Juni 2013

Drama Kepahlawanan SMA N 1 Prembun

Kekalahan Sang Preman
Pelaku :
1.      Suparli           5. Sarti
2.      Suparman       6. Pemuda 1
3.      Minah            7. Pemuda 2
4.      Martina          8. Mas Anang
Pada suatu sore dua orang preman tengah berjalan menyusuri Pasar Minggu. Mereka adalah Suparli dan Suparman. Dua preman ini adalah sosok yang sangat ditakuti oleh para pedagang di Pasar Minggu. Suparli dan Suparman terkenal sebagai preman yang kasar, bengis, dan suka meminta uang setoran yang tak jelas kepada pedagang sebagai pajak karena telah berdagang di area kekuasaannya. Jika ada yang tidak memberikan uang setoran mereka akan bertindak yang sewenang-wenang. Namun sekarang Suparli dan Suparman melakukan tindakan yang kelewatan.
Suparli             : (pandangan tajam) Mana uang setoranmu?
Minah                          : (sangat takut) Ma-maaf Tuan, bukankah dua hari yang lalu saya sudah memberi uang setoran kepada Tuan?
Suparli                         : Ini peraturan baru. Wahai pedagang Pasar Minggu! Mulai saat ini setiap dua hari sekali kalian harus menyerahkan uang setoran 50% dari pendapatan kalian. Ini peraturan baru. Jika ada yang berani melanggar itu artinya kalian berani menantang kami.
Suparman        : (marah) Uang setoranmu Minah? Cepat!
Minah                          : (tak berani memandang wajah Suparli dan Suparman) Tapi Tuan saya sedang tidak memiliki uang banyak. Anak saya sedang sakit dan memerlukan biaya pengobatan.
Suparman        : Itu bukan urusanku. Mana uangnya? Cepat!
Suparli             : Minah....!
Suparman        : (dengan nada keras) Cepat berikan uangnya!
Minah              : (hampir menangis) Tapi Tuan saya sedang membutuhkan.
Suparli             : Ooo..., kau berani melawan kami?
Minah              : (mulai meneteskan air mata) Ampun Tuan... .
Suparli             : Cepat 50%!
Minah              : Tapi Tuan! (seraya memberikan uang miliknya dengan berat hati)
Suparman        : Nah bagus. Ayo! (pergi dengan cepat dan menghampiri pedagang lain)
Dua preman itu menghampiri pedagang yang lain. Kebetulan ada pedagang baru yang singgah di area kekuasaannya. Pedagang baru itu adalah Martina.
Suparli                         : (tertawa) Hahaha..., rupanya kita ketiban rezeki Parman, ada pedagang baru rupanya.
Suparman        : Siapa namamu?
Martina           : (takut) Nama saya Martina, ampun Tuan saya belum ada rezeki. Saya benar-benar sedang tidak memiliki uang hari ini. Saya mohon Tuan jangan paksa saya, ampun.
Suparli                         : Oke tak masalah, karena kau ini adalah pedagang baru dan hari ini kau tidak bisa menyerahkan uang setoran kepada kami jadi aku putuskan kami akan menagih besok sore. Jika sampai besok sore kau tidak menyerahkan uang setorannya kau akan tahu sendiri akibatnya.
Martina            : Terima kasih Tuan. (sedikit legah)
Suparman        : Jangan senang dulu, tapi sebagai hukumannya kami akan meminta tambah 20%, jadi kau harus menyerahkan uang setoran kepada kami 70% dari pendapatanmu.
Martina            : (kaget) Apa70%?
Suparli             : Kenapa? Ada yang salah? (berkata dengan suara kasar)
Martina           : Itu besar sekali Tuan. Bagaimana saya menghidupi keluarga saya kalau uang pendapatan saya harus dipotong 70%?
Suparman        : Itu peraturan untuk pedagang baru di sini. Lagian itu hanya sekali, seterusnya kau hanya memberikan cukup 50% saja.
Martina           : Tapi Tuan.
Suparli             : (berteriak kasar) APA? KAU TAK SANGGUP?
Suparli dan Suparman meminta uang setoran pada setiap pedagang tanpa ada rasa belas kasihan. Setelah menyusuri sekitar 200 meter, mereka juga menemukan pedagang baru yang tengah sibuk menata barang dagangannya.
Suparman        : Parli, kita benar-benar ketiban rezeki.
Suparli                         : Ya kau benar, sekarang area kekuasaan kita menjadi lebih ramai. Rupanya banyak pedagang dari daerah sebelah yang pindah ke area kita.
Suparman        : Menurutmu apa penyebabnya?
Suparli                         : Tak lain lagi, sebelumnya di Pasar Minggu ini kan ada konser dan bintang tamunya saja Nikita Willy, sudah jelas banyak para pedagang yang pindah ke area sini.
Suparman        : Ayo kita ke sana! (membelok ke arah kanan)
Suparli             : Hei! Siapa namamu?
Sarti                             : (senang) Halo Mas-mas, mau beli ayo silakan pilih! Pokoknya harganya murah-murah untuk Mas. Ya udah khusus untuk Mas-mas diskon deh 40%. Ayo Mas dipilih! Ini semua masih baru-baru kok Mas. (masih menata barang dagangannya)
Suparman        : Pedagang sialan. Kami tanya siapa namamu? Kami tidak butuh daganganmu.
Sarti                            : (agak mulai takut) kok marah Mas. Nama saya Sartika, panggil saja saya Mamak Sarti. Ada apa tho Mas kok sampai marah segitunya?
Suparli                         : Asal kau tahu kami adalah penguasa area Pasar Minggu ini dan kau tahu peraturan di sini?
Sarti                 : (tak mengerti) Memangnya apa?
Suparman        : Tiap pedagang harus menyetorkan uang kepada kami tiap dua hari sekali sebesar 50% dari pendapatannya.
Sarti                 : (tak mengerti) Untuk apa?
Suparli             : Itu sudah menjadi kewajiban pedagang di sini. (matanya melotot)
Suparman        : (berkata keras dan kasar) SEKARANG CEPAT BERIKAN 50%!
Sarti                 : Ampun Mas. Saya sedang tidak punya uang sepeser pun.
Suparman        : (berteriak) APA KAU BILANG?
Sarti                 : Saya benar-benar tidak punya uang. Ampun.
Suparli                         : Baiklah kami tidak akan meminta setoran hari ini tapi besok sore kami akan menagih kepadamu tapi kau harus memberikan 70% sebagai hukuman karena kau tidak bisa memberikan sekarang.
Sarti                 : (sangat kaget) Apa 70%?
Suparman        : KAU MASIH MENANTANG? (sangat marah)
Sarti                 : (hampir menangis) Ampun..., ampun.



Malam harinya Minah dan Martina memikirksn sesuatu untuk menghentikan tindakan Suparli dan Suparman. Minah sudah tidak tahan terhadap perlakuan Suparli dan Suparman yang terus meminta uang setoran kepadanya. Akhirnya Martina memiliki ide untuk menghentikan tindakan dua preman itu.
Martina           : Aku tahu cara menghentikannya. Tetapi kita harus diam-diam agar Suparli dan Suparman tidak tahu rencana kita.
Minah                          : (memandang Martina penuh harap) Apa rencanamu? Aku sudah tidak tahan lagi.
Martina           : Lebih baik kita laporkan saja masalah ini kepada pihak kepolisian untuk menghentikan perilaku mereka. (tengok kanan kiri dan berkata dengan suara lirih)
Minah                          : Semua pedagang di sini diancam supaya tidak melaporkan kepada polisi, semua pedagang takut melakukan itu. Tuan Suparli dan Suparman bisa bertindak jahat terhadap kita kalau mereka tahu kita melaporkannya.
Martina           : Buat apa kita takut, semua ini untuk kesejahteraan kita. Kita harus berani melakukan tindakan yang benar untuk menghentikan perilaku Suparli dan Suparman itu. Sampai kapan semua ini akan berakhir kalau tidak ada upaya penyelesaian. Bu Minah kau tak usah takut.
Minah                          : Tapi kita akan lapor kepada siapa? Di sini jauh dari kepolisian.
Martina            : (tersenyum) Tenang kita akan laporkan masalah ini kepada Mas Anang.
Minah              : Siapa Mas Anang?
Martina           : (berkata seraya berdiri dan menarik tangan Minah) Orang hebat. Ayo! Lebih baik kita laporkan sekarang.
Minah              : Kau yakin ini akan membantu?
Martina            : (tersenyum)
Minah dan Martina berangkat menuju rumah Mas Anang. Sekitar 15 menit mereka sampai di rumah Mas Anang.
Mas Anang      : (berkata dengan ramah) Ada apa Mbak Martina ke sini? Tidak biasanya.
Martina            : (seraya duduk) Kami berdua mau meminta bantuan Mas Anang.
Mas Anang      : Bantuan apa?
Martina           : (berkata dengan tenang dan suara datar) Begini Mas, di tempat kami berdagang ada dua preman yang meresahkan para pedagang. Dua preman itu sering meminta uang setoran kepada pedagang dengan paksa. Para pedagang tak mampu mengatasinya. Jadi kedatangan kami bermaksud meminta bantuan Mas Anang untuk mengatasi masalah ini.
Minah                          : (berkata dengan sedih) Iya Mas, kami para pedagang tak mampu berbuat apa-apa. Saya mohon kesediaan Mas Anang untuk membantu. Saya sudah tak tahan atas perbuatan Suparli dan Suparman itu.
Mas Anang      : Memangnya seberapa buruk yang telah mereka perbuat?
Minah                          : Mereka selalu meminta uang setoran 50% dari pendapatan pedagang. Apalagi sekarang mereka telah membuat peraturan baru yang kelewatan. Para pedagang harus memberikan setoran dua hari sekali. Saya takut Mas Anang, bagaimana memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga saya kalau uang pendapatan saya terus dipotong?
Mas Anang      : (berpikir sejenak)
Martina           : Dua preman itu akan datang kembali besok sore untuk menagih uang setoran kepadaku.
Mas Anang     : Baiklah aku akan membantu semampuku untuk mengatasi masalah tersebut. Memangnya sudah berapa lama kejadian itu terjadi?
Minah              : Satu bulan.
Mas Anang      : Kenapa Ibu baru lapor sekarang?
Minah                          : Para pedagang tak berani melawan Tuan Suparli dan Suparman, mereka sangat kasar sekali.
Mas Anang     : Baiklah, besok sore kalian tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Aku akan merencanakan sesuatu untuk mengatasi masalah itu.
Minah              : (seraya berdiri) Terimakasih.
Martina            : Terimakasih Mas Anang.
Mas Anang      : (tersenyum) Ya sama-sama.

Sore harinya Suparli dan Suparman menemui Martina untuk meminta uang setoran kemarin dan kebetulan Sarti juga berjualan di samping Martina. Suparli dan Suparman meminta uang setoran 70% kepada mereka berdua. Perkataannya sangat kasar sehingga membuat Martina dan Sarti takut. Minah yang berada di sampingnya pun hanya menundukan kepala tak berani mengucapkan sepatah kata apapun. Suasana sangat menegangkan, Minah berharap Mas Anang segera datang dan menghentikan Suparli dan Suparman.
Suparli             : Kebetulan sekali kalian berdua berada di sini, mana uang setoran kemarin?
Martina            : Ma-maaf Tuan, dagangan saya belum laku jadi saya tidak memiliki uang.
Suparli             : (dengan suara sangat kasar) APA KATAMU?
Sarti                            : (agak takut) Begitupun saya Tuan, sudah satu jam saya duduk di sini tetapi belum juga ada pembeli. Bagaimana saya memberikan uang setoran kalau tidak ada pembeli. Maaf Tuan saya tidak bisa memberikan uang setoran hari ini.
Suparman        : KURANG AJAR KALIAN. KALIAN BERDUA BERANI BERMAIN-MAIN DENGAN KAMI? (Suparman menatap mereka berdua dengan marah)
Sarti                 : Benar Tuan, saya tidak memiliki uang hari ini.
Suparli             : Alasan, pasti itu rencana kalian agar bisa menghindar dari kami.
Martina            : (meyakinkan) Sungguh Tuan.
Pemuda 1        : (suara muncul tiba-tiba dari belakang Suparli dan Suparman) Hey kalian, beraninya kalian meminta setoran kepada pedagang demi keuntungan kalian sendiri. Kalian tidak memikirkan bagaimana sulitnya mencari uang, kalian dengan seenaknya meminta uang kepada mereka.
Suparli             : (memalingkan pandangan) Kau ini siapa? Kau tidak berhak ikut campur.
Pemuda 2        : Kami berhak ikut campur. Tindakanmu adalah masalah bagi kami.
Mas Anang     : (Muncul dengan tiba-tiba dari belakang Sarti) Kalian berdua berani sekali meminta uang setoran kepada pedagang di sini.
Suparman        : (menoleh ke arah Mas Anang dengan wajah tak senang)
Suparli             : Memangnya kenapa? Ini area kekuasaan kami.
Mas Anang     : (Memegang pistol dan mengarahkannya pada Suparman) Apa? Area kekuasaanmu? Apa aku tak salah dengar?
Dorrr. Peluru mengenai kaki kiri Suparli. Suparli jatuh tak kuasa menahan tubuhnya sedangkan Suparman kaget dan bingung kemudian langsung kabur menghindar dari Mas Anang.
Suparli             : (berteriak dengan nada rintihan kesakitan) Parman! Tolong aku!
Martina, Minah, dan Sarti langsung berlari menuju arah Suparli dan mencengkeram erat kedua tangannya supaya tidak kabur, sementara Pemuda 1 dan Pemuda 2 mengejar Suparman yang telah lolos.
Mas Anang      : Amankan Suparli ini! Jangan sampai kabur!
Sarti                 : (menganggukan kepala) Baik komandan.
Mas Anang langsung berlari ke arah berlawanan.
Mas Anang     : (tersenyum) Hey mau kemana kamu? Sekarang kamu tidak akan bisa kabur.
Suparman        : (kaget melihat Mas Anang berada di depannya dengan tiba-tiba) Siapa kamu? Jangan sok jadi pahlawan di sini!
Mas Anang     : Akulah orang yang akan menghentikan dan menangkapmu dan tentunya  membebaskan para pedagang dari peraturan yang kau buat itu.
Suparman        : KAU TAK KAN BISA!
Pemuda 1        : (Muncul dari arah belakang Suparman) Mau kemana kau?
Pemuda 2        : (Muncul dari arah samping) Kau tidak akan bisa lari lagi sekarang.
Mas Anang      : Sekarang kamu tak bisa berkutik lagi. Menyerahlah kau!
Suparman kebingungan, ia langsung nekat berlari ke arah Pemuda 1. Dorrrrrrrrr. Mas Anang berhasil melemahkan Suparman dengan tembakan tepat di kaki kanannya. Pemuda 1 dan Pemuda 2 memegangi kedua tangan Suparman dengan erat.
Suparman        : Lepaskan aku! Toloooooong!
Mas Anang      : (dengan tegas) Diam kamu!
Suparman        : Siapa kau ini sebenarnya? Apa tujuanmu keparat?
Pemuda 1        : (marah) Bicara yang sopan!
Mas Anang     : Asal kau tahu Suparman, sebenarnya aku sudah mengawasimu satu minggu ini. Aku selalu memantau gerak-gerikmu setiap hari, dan perlu kau tahu Suparman, Sarti itu adalah penjual yang aku perintah untuk berjualan di sini guna memantau gerak-gerikmu lebih dekat. Satu lagi aku ini adalah mantan ketua polisi dan akhirnya aku bisa menangkapmu dan menghentikan perbuatanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar