Kamis, 20 Juni 2013

CERMIS by Iskandar

POHON KEMATIAN
Pada saat liburan, pasangan kakak beradik, Andra dan Anita berencana menghabiskan liburan di rumah Kakeknya. Andra dan Anita berangkat ke rumah Kakek dan tiba sdi rumah Kakek pukul lima sore.
Pada suatu malam Andra, Anita, dan Kakek berbincang- bincang di ruang tamu membahas rumah tua yang angker di atas bukit.
“Kek apa benar rumah tua di atas bukit itu sangat angker?” tanya Andra
“ benar “ jawab Kakek. “ Rumah itu sangat angker”.
Andra tersenyum “ Masa di zaman modern ini Kakek masih percaya sama takhayul”
“ Jaga perkataanmu !” bentak Kakek. Andra pun sedikit kkaget. “Asal kau tahu rumah itu adalah lorong ribuan setan, pernah ada seorang Ustazd menerawang tempat itu dan katanya ada ribuan setan berkeliaran di rumah itu, kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?”
“ Apa kek?” tanya oAnita penuh penasaran
Kakek pun berbicara dengan ngeri dan mengucapkan “ Ustazd itu meninggal sehari kemudian, semua orang tahu penyebabnya.”
“Apa penyebabnya kek?” tanya Anita sedikit takut.
“Tak salah lagi, itu karena Ustazd itu mengucapkan kata sederhana yang sebenarnya itu adalah kata yang membahayakan dan mengerikan akibatnya jika diucapkan” kata kakek
Andra tak mengerti apa maksud kakek, “kata yang seperti apa kek?”
“ kata itu bisa mengusik ketenangan mereka.”
“ Apa itu kek?” tanya Anita
Kakek mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding. “Sudah, sekarang kalian tidur!!”
Pada malam kedua mereka menginap, ada kabar menggemparkan di daerah itu. Seorang lelaki paru baya tewas dalam keadaan kaku tidak jauh dari rumah angker itu. Raut wajah ketakutan tersirat pada lelaki itu. Semua orang menduga karena dia telah melakukan tindakan sembarangan di tempat itu dan tentunya dia telah mengucapkan kata terlarang/ pantangan itu.
“Tidak hanya lelaki itu , seminggu yang lalu juga ada kejadian tak jauh berbeda , seorang wanita tewas mengenaskan di tempat itu” kata  Kakek. “Menurut warga yang sudah merasakan keanehan, tempat itu dihuni oleh makhluk tinggi berkerudung yang mengerikan.”
Suasana menjadi sangat menakutkan setelah kakek bercerita. Andra pun menjadi merinding mendengar cerita kakek.
“Memangnya sudah berapa lama usia tempat itu kek?” tanya Andra.
“Ratusan tahun, konon tempat itu adalah tempat penguburan massal pembantaian Belanda.” Kata Kakek.
“Tapi aku masih penasaran dengan tempat itu kek.” Kata Andra. “bisa saja pembunuhan di tempat itu dilakukan oleh seseorang, kan tempat itu sepi”.
“MANA MUNGKIN ? ANDRA ITU TEMPAT KERAMAT.”
Jaru jam sudah menunjuk pukul sebelas malam, tetapi Andra belum bisa menutupkan matanya, ia sangat penasaran dengan tempat itu. Diam-diam dia bangkit dan mengambil senter.
“Kakak mau kemana?” tanya Anita tiba-tiba
“Ssss.... kau hampir saja membuat jantung copot, Aku mau ke rumah itu.” Jawabnya
“Untuk apa? Itu berbahaya.” Seru Anita
Andra tak menghiraukan, dia tetap bersikeras ke rumah angker itu. Anita pun berlari mengejarnya. Pada saat kurang 50 meter lagi dari pintu rumah angker itu, Andra dan Anita merasakan hawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri tegak.
“Kita kembali saja” ucap Anita.
Andra tetap melangkah mendekati pintu. Tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang wanita dari  pohon besar di dekat rumah itu. Andra pun menoleh ke pohon itu. Pohon itu sangat besar mungkin berdiameter 2 meter. Ada goresan tulisan merah di pohon itu.
“MATI? Apa arti tulisan itu?”
Anita kaget bukan main. “Itu dari darah, dan kakak mengucapkannya. Kata itu. Ingat perkataan kakek.”
Suara tangisan berhenti. Andra melihat sekelebat bayangan putih di balik pohon besar itu. Suasana sangat mencekam. Andra berusaha mengarahkan senternya agar bisa melihat seseorang di balik pohon itu. Teet. Senter mati. Anita gemetar, kaku tak bisa bergerak bahkan suaranya pun hanya mencicit. Sepertinya  Anita melihat sesuatu.
“K-k-kau ini k-k-kenapa?” tanya Andra dengan sangat takut.
Suara tangisan muncul kembali di balik pohon. Kata “MATI” masih tergores di batang pohon besar itu. Andra pun nekat mendekati pohon besar itu. Suara tangisan makin terdengar jelas. Terdengar suara hembusan napas sangat mengerikan. Andra tak mampu berkata apa-apa, dia tetap mencoba melihat di balik pohon walaupun lehernya kaku. Tiba-tiba wajah hancur dengan mata merah berdarah  sangat mengerikan muncul di hadapannya.
AAAAAAAAAAAAAAAAAA.......
Keesokan harinya Anita meratapi kakaknya yang telah tiada.
                                                                                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar